Senin, 08 April 2013

CIta-Cita Seorang Anak Kelas 4 SD


Yup, my name is Johan @johantitarsole and I'm a short guy, and I'm handsome (wtf).Nama gue itu "Johan", artinya dalam Bahasa Jerman adalah: "Kemenangan" atau "Murah Hati".
Tetapi, nama gue ga sesuai sama kehidupan gue. Mau bukti?
Gue selalu kalah kalau main Smackdown sama adik gue di kasur, dan hasilnya tempat tidur gue jadi berantakan, dan gue selalu dimarahin sama nyokap.Dan gue selalu 'mengalah' sama adik gue sendiri. Nah.. Apanya yang 'kemenangan'? Gue ngalah mele~


Kali ini gue akan membicarakan tentang masa kecil gue. Dulu gue adalah bocah ingusan dengan rambut belah pinggir dan bertubuh pendek yang mempunyai banyak cita-cita. Namanya juga anak kecil, masih polos-polosnya.


Kembali ke tahun 2004, ketika gua duduk di bangku kelas 4 SD. Waktu itu gue masih polos banget, dan gue sering menjadi korban palak oleh temen-temen gue. Bahkan dulu gue sempet direndahkan. Tapi lama-kelamaan reputasi gue pun meningkat, karena gue adalah salah satu murid yang paling pintar di kelas gue (ini serius!), dan mereka pun secara tidak langsung menjadi pengikut gue..
Ga percaya? tanya aja sama @mikhael_putra atau @LusiusGenikLend -_-

Masa-masa kelas 4 SD gue ini overall depresif banget, gue selalu mencoba untuk bunuh diri terus karena dipalakin tiap hari (namanya juga anak kecil). Bahkan dulu waktu umur gue masih 4 tahun dan gue belom bisa ngomong huruf "R" waktu itu, gue masih inget banget nih sama kejadian ini, gue nginep di rumah nenek gue di Pondok Gede. Tidak seperti di rumah gue, disana itu peraturannya sangat ketat. Makan harus pake sendok dan garpu, sebelum makan harus cuci tangan dulu, kalo tidur ga boleh ngompol, dll. Peraturan itu ga bisa diikuti oleh manusia brutal seperti gue.
Suatu saat, gue dimarahin sama nenek gue 'Johan! Kenapa kamu makan ga pake garpu!?'
'Kan Johan makannya pake sup, masa pake garpu?' kata gue polos
'Harus pake garpu!' dan.. BLETAK!!

Gue pun dipukul sama nenek gue, dan gue pun dengan memakai prinsip sinetron gue langsung lari tinggalin meja makanan sambil menangis, lari menuju kamar nenek gue dan menangis.
(Sinetron banget kan? hahaha.. "Garpu Yang Tertukar" LOL).

Dan gue pun teriak 'Johan ceteles (stress) sama oma!'
'Terus?' Sepertinya nenek gue menikmati betul kejadian ini wkwkwk
'Johan mau bunuh dili (diri) aja!' Kata gue teriak
'Oh yaudah.. Terserah kamu..'
'Emang oma ga sedih kalo Johan bunuh dili?'
'Ngga tuh' Nenek gue makin menikmati dan sedikit tertawa
'Yahh..'
Tiba-tiba gue buka pintu kamar nenek gue dan gue keluar dari kamar, dan gue menuju meja makan dan langsung menghabiskan nasi dan sup gue. Nenek gue pun ketawa ngakak -_-

                 

Kembali ke masa kelas 4 SD.
Gue inget banget, suatu hari wali kelas gue, Pak Misdi, ngasih tugas ke kelas gue. Tugasnya adalah: "Tulis apakah cita-cita kalian di secarik kertas dan bacakan di depan kelas".
Gue pun kebingungan, karena gue ga tau apa cita-cita gue. Gue pun berpikir keras.
Gue melihat teman-teman gue pun mulai menulis cita-cita mereka di kertas mereka masing-masing dengan semangat. Gue belom menulis sama sekali. Satu-satunya yang gue tulis di kertas gue tuh cuma Nama sama Kelas doang.

Gue pusing tujuh keliling, karena gue ga tau cita-cita gue apa. Akal gue pun ga kalah canggih, gue mencoba untuk 'menyontek' kertas temen gue yang namanya Adi. Gue bilang ke dia 'Eh Adi, gue liat kertas lo dong'.
Diluar dugaan, si Adi teriak 'AH ELU JOH! MASA NULIS CITA-CITA AJA NYONTEK!?'.
Otomatis seisi ruangan langsung pada ketawa, gua rasa wali kelas gue langsung heran pada saat itu: Nulis cita-cita aja nyontek, gimana ulangan? hahaha..

Gue pun bertekad untuk keliling-liling kelas, buat ngeliatin 'contoh cita-cita' yang benar seperti apa. Gue melihat punya si Saut, dia menulis ingin menjadi Dokter. Whoa.. Fantastic.
Gue melihat punya Devi, dia menulis ingin menjadi Dokter juga. 
'Lah kok? Punya si Saut sama Devi kok sama sih? Gua rasa mereka kerjasama nih.. Kampret' kata gue dalam hati.

Gua melihat satu-persatu kertas milik temen-temen gue, ada yang nulis ingin menjadi Pilot, Dokter, Nahkoda, Masinis, Presiden, Gubernur, dll. Maklum masih SD, rata-rata anak SD kalo ditanya cita-citanya pasti mereka bakal jawab ga jauh dari itu. Gue pun sama-sekali belum menyelesaikan tugas gue. Gawat.
Tiba-tiba Pak Misdi menyuruh mengumpulkan kertas-kertasnya..
'Anak-anak, ayo kumpulin kertasnya' Kata Pak Misdi dengan logat jawa.

Temen-temen gue langsung bergegas mengumpulkan kertas-kertas mereka ke meja Pak Misdi. Cuma gue doang yang belom selesai. Gue pura-pura ga tau aja, seolah-olah ga tau apa yang terjadi. Gue duduk santai, tapi dalem hati: 'ADUH.. GIMANA NIH?'

Beberapa menit kemudian, Pak Misdi mulai memanggil nama kita satu-persatu untuk membacakan apa isi cita-cita kami di kertas tsb..
'Adi Setiawan!'
'Iya pak' Adi dengan semangat maju ke depan dengan hidung yang kembang-kempis.
'Cita-cita saya adalah menjadi seorang guru, agar saya bisa membuat generasi muda bangsa Indonesia menjadi pintar' Kata Adi.
Terdengar suara tepuk tangan yang memenuhi seisi ruangan.

'Citra Nindi!' Pak Misdi melanjutkan memanggil nama kami satu-persatu.
'Baik, Pak' si Citra terlihat santai.
'Cita-cita saya adalah menjadi seorang Pramugari, karena pramugari itu cantik..' Kata Citra dengan percaya diri. Dalem hati gue: WOYY.. SADAR DIRI WOY! (sableng bgt gue emang)

Beberapa nama sudah dipanggil oleh guru gue. Seperti dugaan gue, cita-cita mereka ga jauh dari Dokter, Pilot, Nahkoda, dsb. Kenapa ga ada yang ingin menjadi Raja Bajak Laut sih kaya Luffy di anime One Piece? Atau menjadi Hokage, kaya Naruto
Dan akhirnya Pak Misdi bilang 'Siapa yang belum ngumpulin?'
Diluar dugaan lagi, si Adi teriak 'SI JOHAN BELUM TUH PAAAKK!!'
Dalem hati gue: 'KAMPRET LU!!'
'Kenapa kamu belum nyelesain tugas kamu?' tanya Pak Misdi.
Soalnya saya belum tau apa cita-cita saya, pak' Jawab gue jujur.
'Yasudah, tugasnya kamu selesaikan di rumah, besok bawa lagi ke sekolah'
'I-iya pak..'

Ga lama kemudian, bel pulang sekolah pun berbunyi menandakan saatnya untuk pulang. Berhubung gue adalah orang yang males (meskipun gue pinter, gue juga memiliki tingkat kemalasan yang tinggi), gue ga langsung ngerjain PR. Hal pertama yang gua lakukan setelah pulang sekolah adalah main PS2 dengan seragam yang masih dipakai dan kaos kaki yang masih dipakai, dan hasilnya pun gue menjadi korban 'pemukulan' oleh nyokap.. BLETAK!! Karena sudah terbiasa dengan ini, gue pun ga nangis.

Gue langsung ganti baju, lalu makan siang, lalu melanjutkan main PS2. Game yang gua mainin waktu itu adalah Final Fantasy X. 
Bagi yang ga tau apa itu Final Fantasy X, akan gue jelaskan:

Final Fantasy X itu adalah game terbaik PS2 saat ini.
FF X mengambil setting pada dunia yang bernama Spira. Spira mengambil inspirasi dari asia tenggara, jepang, dan hawai. Pada dunia ini hidup bermacam-macam ras. Ada manusia, Al-bhed yang seperti manusia dengan bahasa unik namun mempunyai kepintaran lebih dalam hal teknologi, Guado yang mempunyai jari panjang namun agak mirip dengan manusia dan mempunyai kelebihan dalam soal magic, Ronso yang berbentuk singa namun mempunyai tanduk tapi berkaki dua dan mempunyai kekuatan fisik tinggi, dan terakhir Hypello yang mempunyai bentuk seperti katak. 

Cerita bermula pada Zanarkand, kota yang mempunyai teknologi sangat canggih. Dimana penduduknya tidak perlu banyak bekerja dan banyak menghabiskan waktu untuk bersenang-senang seperti menonton pertandingan Blitzball. Di kota itu hidup karakter utama FF X – Tidus - seorang pemuda yang merupakan anggota kunci Blitzball Zanarkand Abes yang sedang melakukan pertandingan final di sebuah stadium yang dipenuhi penonton. Tiba-tiba dikagetkan oleh serangan mendadak dari Sin, sebuah mahluk raksaksa yang mempunyai kekuatan sangat besar. Auron, yang merupakan teman ayah Tidus datang menolong dan memandu Tidus untuk keluar dari Zanarkand melalui sebuah lubang hitam yang ada di langit. Tetapi tidak disangka, Tidus malah terlempar 1000 tahun sesudah masanya. Di dunia yang disebut Spira tersebut nantinya Tidus akan bertemu banyak teman seperti Yuna, yang merupakan seorang summoner dan ternyata mengenal ayah Tidus. Tugas Tidus nantinya adalah menemani Yuna untuk mengalahkan Sin dan juga mencari jalan untuk pulang ke dunia asalnya.

Di tengah perjalanan, Tidus akhirnya jatuh cinta pada Yuna. Mereka saling mencintai, tapi takdir berkata lain. Di ending game tsb, Tidus akhirnya mati dan lenyap selama-lamanya.

(Ya kira-kira begitulah. Gua sangat terinspirasi dari game tersebut. Bahkan sampe sekarang pun gua masih terinspirasi dengan game tersebut. Gua berharap kehidupan gua bisa se-romantis game itu. Tapi harapan hanyalah harapan)

Gua sangat terinspirasi dengan Final Fantasy X. Bukan hanya karena ceritanya yang epic dan romantis, tapi karena ada quotes-quotes disana yang memotivasi gue untuk menjalani hidup..
seperti: "This is my story.. It'll go the way I want it.. Or I'll end it here.."
atau: "The people and the friends that we have lost, or the dreams that have faded... Never forget them".
Kata-kata itu selalu menyangkut di otak gue. Dan gue selalu mengaplikasikan quotes tersebut di dalam kehidupan gua.


Kembali ke PR..
Setelah main game tsb, akhirnya gua baru sadar kalo gua mempunyai tugas untuk besok. GAWAT!
Akhirnya gua mengambil secarik kertas gua yang ada di tas, dan gua memulai untuk menulis.
Tiba-tiba inspirasi yang fantastic melintas di pikiran gue, gua jadi teringat tentang game yang gua mainin barusan. Terinspirasi dari game, akhirnya gue mulai menulis cita-cita gue di kertas tersebut dengan percaya diri. Yang ada di dalam pikiran gue cuma: 'yang penting selesai nih tugas sialan'
Gua merasa kalau cita-cita yang gue tulis ini adalah cita-cita yang ga bakal pernah ada di pikiran anak-anak SD jaman sekarang. Cita-cita gue bisa dibilang unik. Beda sendiri dari pada yang lain.
Gue dengan pedenya nyengir-nyengir membayangkan besok temen-temen gue bakal bersorak-sorak sambil bertepuk tangan karena mendengarkan cita-cita gua yang epic ini.


Keesokan harinya.
Pagi gua diawali dengan suram, karena nyokap gue membangunkan gue dengan cara yang diluar akal sehat manusia, yaitu dengan disiram pake air teh.

Dengan aroma berbau-bau teh, gua pun bergegas ke sekolah.
Dan gua berharap Pak Misdi langsung menagih tugas gue, dan ternyata benar. Dengan senyum lebar dan najis gua maju melangkah kedepan, langkah demi langkah, dag dig dug dag dig dug, dan akhirnya gua berdiri di depan kelas dan membacakan cita-cita gue dengan suara yang lantang dan penuh semangat.

isi dari kertas gue:

Nama: Johanes Marsky Titarsole
Kelas: IV

CITA-CITAKU

Cita-cita saya adalah untuk menjadi pemuda tampan dan pemberani yang ditakdirkan untuk bertemu dengan wanita cantik dan berkelana bersama-sama dan menjalin hubungan kasih sayang bersama-sama dan menyelamatkan dunia dari monster besar yang akan menghancurkan dunia, dan saya akan mati dengan gagah berani demi dunia ini dan membuat semua orang bahagia. Dengan begitu saya akan dianggap sebagai pahlawan.

TAMAT..


Dan kalian tahu apa reaksi teman-teman dan guru gue? Mereka tertawa terbahak-bahak.
Gue belum pernah melihat mereka sebahagia itu.
Karena gue melihat mereka tertawa dengan keras, gua anggap kalau cita-cita gue itu spektakuler di mata mereka.
(WKWOKOWKOKW GOBLOK!!!) hahahaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar